Hai Ende!!!

IMG_3986.jpeg

Sebagai salah satu kabupaten yang berada di Flores – NTT (Nusa Tenggara Timur), Ende mempunyai nilai historikal dan andil dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Enggak cuma itu! Ende juga mempunyai wisata alam yang terkenal di berbagai penjuru dunia.
HMMM… Ada apa aja ya di Ende????

Cukup beruntung karena saya mempunyai kesempatan untuk mengunjungi salah satu kota bersejarah ini. Meskipun cuma 2 hari tapi itu udah lebih dari cukup buat saya. Jadi tulisan kali ini akan membahas destinasi wisata yang saya kunjungi selama di Ende.

Tiba di Bandar udara H.Hasan Aroeboesman – Ende, saya dan teman-teman langsung menemui Pak Ardi, seorang driver yang akan menemani perjalanab kami di Ende.

20180618_162306.jpeg

Perjalanan di mulai dan sekitar 10-15 menit dari bandara, kami tiba di sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Perwira. Saya beri judul “BERTAMU DI RUMAH BUNG KARNO (Presiden pertama Indonesia)” 
Jangan mengira kami benar-benar bertamu dan menemui keluarga besar Alm. Bung Karno gaes…

Sedikit info…
Pada jaman penjajahan, Bung Karno di asingkan ke Ende karena dianggap berbahaya bagi pemerintahan Belanda pada 14 January 1934 – 18 Oktober 1938. Selama pengasingan di Ende, Bung Karno tertekan karena pergaulannya dengan masyarakat dibatasi dan juga pengawasan yang terlalu ketat oleh Belanda. Akhirnya Bung Karno bangkit dan kemudian bersosialisasi dengan warga sekitar.
Beberapa tahun setelah merdeka, Soekarno kembali mengunjungi Ende dan meminta agar rumah yang pernah ia tinggali selama pengasingan tersebut dijadikan museum.

Inilah tempat pertama yang kami singgahi di Ende, yaitu sebuah museum atau rumah pengasingan Bung Karno. Kunjungan kami tepatnya untuk melihat-lihat seperti apa sih rumah beliau dan ada apa di dalamnya?

Rumah ini mempunyai pagar yang cukup pendek, sehingga setiap orang yang lalu-lalang bisa melihat dengan jelas bagian depan rumah. Sebuah rumah sederhana dengan taman yang cukup luas di bagian depan dan terdapat patung Bung Karno dan sebuah tiang yang mengibarkan bendera merah-putih.

Saat memasuki rumah, di bagian kiri terdapat beberapa koleksi peninggalan yang pernah di pakai oleh Bung Karno dan keluarga, seperti; piring antik, biola, foto, dan beberapa barang lainnya. Seperti rumah pada umumnya, disini juga ada ruang makan, kamar tidur, toilet, dapur, dll. Semuanya lengkap dengan kasur, lemari, meja, dan kursi yang pernah di pakai. Melihat ke bagian belakang rumah terdapat sumur dan beberapa ruang kecil lainnya dan juga akses jalan samping untuk menuju halaman depan.

IMG_3967.jpeg

IMG_3973.jpeg

Bagian Depan

IMG_3978.jpeg

Bagian Samping

 

IMG_3969.jpeg

123.jpeg

Bagian Belakang

Beralih dari rumah pengasingan, destinasi kami selanjutnya (ke-2) masih berhubungan dengan Bung Karno dan enggak jauh kok! Sekitar 5-10 menit yaitu Taman Perenungan Bung Karno.

Pada masa-masa Soekarno di asingkan, beliau sering mengunjungi taman ini karena tempatnya tenang, banyak pepohonan rindang, dan berhadapan dengan laut. Taman tersebut mempunyai pohon sukun bercabang lima dan Bung Karno suka duduk dibawah pohon itu sambil merenung dan menghadap laut. Pohon inilah yang menjadi saksi bisu awal ide Pancasila karena Bung Karno mendapat inspirasi setelah melihat pohon sukun ini. Meskipun pohon tersebut sudah tumbang karena angin, tapi sudah digantikan dengan pohon yang baru.

Taman ini sangat luas, dan biasa digunakan warga untuk berbagai kegiatan, seperti; bermain papan seluncur, olahraga, piknik, bahkan beberapa acara besar lainnya.
Di tengah taman dibuat patung Bung Karno yang sedang duduk sambil menghadap ke laut dan bersebelahan dengan pohon sukun.

IMG_3991.jpeg

Karena sudah sore dan butuh asupan, kami memutuskan untuk makan telebih dahulu baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Moni untuk menginap. Keesokam subuhnya kami menuju Danau 3 Warna / Danau Kelimutu (destinasi ke-3).

Saat berada di pengasingan, Bung Karno sempat mengunjungi Danau Kelimutu hingga akhirnya muncul naskah “Rahasia Kelimutu” yang dibuat Bung Karno.

Detil cerita perjalanan dan keindahan Kelimutu bisa kalian buka di sini

img_4075.jpeg

Puas dari Kelimutu, kami langsung menuju destinasi ke-4 yaitu sebuah pantai bernama Blue Stone Beach.
Pada hakikatnya pantai itu berpasir tapi disini seperti namanya, pantai ini dipenuhi dengan batu pebble (batu hias taman yang berbentuk pipih halus) berwarna biru. Sebenarnya ada pasir hanya saja pasirnya tertutupi dengan batu biru tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, saya melihat banyak orang yang menjual batu tersebut. Mereka mengambilnya dari pantai lalu menjualnya dalam kiloan baru kemudian dimasukan ke dalam karung. Sebenarnya saya tertarik dan ingin beli apalagi harganya relatif murah. Tapi karena perjalanan saya masih harus berlanjut menuju kota lain dan sepertinya agak ribet membawa karung batu tersebut. Belum lagi harus upgrade bagasi yang harganya muahal banget, akhirnya gak jadi beli deh.

Saya kurang tau apakah batu tersebut boleh di ambil atau tidak. Karena ada yg bilang batu tersebut tidak akan habis walaupun diambil berkali-kali. #CMIIW. Tapi saya teringat dengan pink beach di Taman Nasional Komodo yang warnanya pudar karena terlalu sering diambil wisatawan. Hal ini juga yang membuat saya ragu tentang batu biru tersebut. At the end saya ambil 1pcs untuk kenang-kenangan. HEHE.

Okay balik lagi.
Perjalanan menuju Blue Stone Beach agak membingungkan bagi saya.
Sejauh mata memandang sebenarnya laut dengan hamparan batu biru tersebut sudah di depan mata, tapi masalahnya kami belum bisa menepi dikarenakan ada semacam dinding pemisah antara jalanan dan pantai. Kalaupun mau menepi kami harus memanjat dinding tersebut kemudian masih harus berusaha turun karena posisi pantai nya dibawah jalanan dan itu cukup curam.

Hingga akhirnya kami tiba di sebuah restoran yang mempunyai akses untuk turun ke pantai barulah kami berhenti. Ya hitung-hitung sekalian mengisi perut untuk makan siang. Sebelum memesan makanan kami turun dulu untuk melihat seindah apa Blue Stone Beach itu.

Jujur di luar ekspektasi saya. Saya membayangkan hamparan batu biru di sepanjang pesisir pantai tapi kenyataannya batu tersebut tidak memenuhi pantai alias ada beberapa bagian yang terlihat pasirnya. Di luar itu saya suka dengan suasana disini. Hembusan angin laut, deburan ombak, suasana tenang, langit biru, awan putih dengan latar gunung, bikin adem jiwa :p

Ohya, Blue Stone Beach menjadi tujuan terakhir kami di Ende. So, Terimakasih Ende untuk pengalamannya ^^

IMG_4116.jpeg

Salah Satu Tempat Makan (Akses Menuju Pantai)

345.jpeg

Di Ujung Ada Tangga Untuk Turun ke Bawah

1234.jpeg

 

Note untuk yang mau melakukan perjalanan ke tempat ini :

– Bawa uang tunai secukupnya, karena agak susah mencari ATM.

– Bawa cemilan dan stock air minum khususnya saat perjalanan ke Kelimutu

– Jangan ragu untuk menggunakan jasa guide saat di Rumah Pengasingan Bung Karno, agar kalian bisa lebih paham seluk-beluk rumah tersebut

– Sebenarnya masih banyak tempat wisata lain. Kalo memang kalian punya waktu lebih, kalian bisa googling destinasi yang lain.

 

Budget Per Juni 2018 :

– Sewa mobil : Rp 1.000.000/Hari/All in

– Rumah Pengasingan Bung Karno : Seikhlasnya

– Taman Perenungan Bung Karno : FREE

– Kelimutu bisa cek di postingan sebelumnya

– Blue Stone Beach : FREE, yang penting beli makan ;p

 

TAKE NOTHING BUT PICTURES
LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINTS
KILL NOTHING BUT TIME

ENJOY THE TRIP !!! ^^

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s