Perjuangan Menuju Papandayan

00294D08-CCE6-4764-8B15-7DD1FF76682D.jpeg

Satu, dua tahun belakangan ini saya mulai memasukan agenda naik gunung ke dalam daftar travel saya. Diusahakan (minimal) 1x dalam setahun, entah itu cuma 610mdpl -standard minimum ketinggian gunung- atau ribuan mdpl dan sebisa mungkin dilakukan saat 17 Agustus. Ceritanya biar memupuk jiwa Nasionalisme :p
Kalo bisa sekalian deh upacara di ketinggian ibu pertiwi.

Meskipun sudah beberapa kali naik gunung tapi hanya sebatas gunung untuk pendaki pemula, seperti; Bromo, Ijen, Batur, Batu, Rumpin, dll.
Saya selalu berharap suatu hari nanti bisa mendaki “gunung beneran”.

Kamis, 16 Agustus 2018.
saya beserta 5 teman melakukan perjalanan yang bisa dibilang cukup nekad dan gila, yaitu menuju sebuah gunung di Garut-Jawa Barat, Gunung Papandayan (lagi-lagi gunung pemula). Sebenarnya enggak ada yang salah dengan Gunung Papandayan.
Sebagian besar para pendaki yang kesini akan mendirikan tenda untuk camping minimal semalam. Inilah ke-absurd-an kami yang merencanakan untuk one day trip.
Perlu di ketahui perjalanan Jakarta-Garut sekitar 6 jam dan belum termasuk macet.
Cukup gila dan nekad bukan???

“kenapa enggak nginep aja?”
“Loe yakin?”
“Itu mah cape-in diri doank”
“Sayang banget enggak nginep!!! Di sana kalo nginep bisa lihat jutaan bintang yang enggak mungkin loe dapetin di Jakarta!!!”
Itulah beberapa reaksi dari teman travel saya ketika mereka tau bahwa saya akan one day trip ke Papandayan.

Okay, lanjut lagi.
Diantara kami ber-6, saya kaum paling minoritas untuk urusan domisili karena hanya saya yang tinggal di Tangerang Selatan, sedangkan yang lain berada di Jakarta Barat.
Setelah berdiskusi panjang-lebar akhirnya disepakati kalau mereka akan menjemput saya yang “minoritas” ini. (Saya terharu T.T, terimakasih ya kawan-kawan ^^)
Pertimbangannya adalah:
Pertama:
Diantara kami ber-6, hanya saya yang masih harus bekerja hingga pukul 5pm, sedangkan mereka sudah free pukul 3pm.
Analisis kami adalah ketika mereka pulang kerja, mereka langsung menjemput saya. Jadinya kami bisa langsung jalan ke Papandayan “TENG” pukul 5pm.
Kedua:
Mereka harus menunggu hingga saya kelar kerja pukul 5pm yang kemungkinan besar baru akan tiba sekitar pukul 7pm di Jakarta (di salah satu rumah teman)

///Akhirnya disepakati lah nomor 1 dengan perhitungan efisiensi waktu sekitar 2 jam.
Makin cepat sampai di Papandayan semakin baik bukan??? ^^///

Kamis, 16 Agustus 2018, Pukul 4PM.
Perjalanan di mulai dari salah satu rumah teman yang berada di kawasan Glodok.
Kami baru tau ternyata saat itu sedang ada pawai obor 2 hari menjelang Asian Games. SIALNYA, salah satu rute yang harus di lewati adalah jalur pawai obor tersebut. #gubrak

Alhasil MACET luar biyasahh!!! Baru jalan beberapa menit udah macet, baru maju sedikit eh berhenti lagi, begitu seterusnya hingga 2jam kemudian baru sampai grogol. #goodness

Mau tau mereka sampai di tempat saya jam berapa??  7.30pm (baca: 7.30 MALAM).
Kalo boleh meminjam bahasa korea, DAEBAK!!! Jakarta – Tangsel 3.5 jam. Udah ngalahin perjalanan ke Bandung.

“Gila!!! Macetnya parah banget…”
“Eh, Numpang toilet donk…”
“Blablabla….”
Begitu tiba, semua unek-unek diluapin di tambah beberapa lelucon sindiran karena menjemput saya. Sebenernya saya enggak enak hati dan kasihan dengan mereka yang berjuang menembus kemacetan demi saya :p Tapi mau gimana lagi (hehehe, terimakasih kawan-kawan) :p

1BCAC2EC-D6F1-4B37-857A-5D36F0D64042

Kamis, 16 Agustus 2018, Pukul 8PM
Rencana awal yang seharusnya pukul 5pm jalan, berubah menjadi pukul 8pm. #tepokjidat.

Setelah mengatur formasi duduk, mobil langsung meluncur.

“Eh, ini lewat mana ya?”
Hening seketika…..
Kami baru sadar ternyata enggak ada yang prepare how to get there.
Mulailah kami mengandalkan si maps.

From : your location
To      : Gunung Papandayan
Start navigation….

Mau tau apa kata si maps????
Kami disuruh balik ke Jakarta kemudian masuk tol Semanggi….
WHATT!!!!! Balik Jakarta lagi????? Enggak salah????

Dan itu the fast route versi si maps…
Awalnya saya pikir bisa lewat tol belakang BSD atau bintaro.
Yasudahlah, kami memilih patuh kepada si maps daripada harus banyak berdebat dengan si maps yang enggak bisa di ajak ngomong juga. -Apalagi udah semakin malam-

Akhirnya, kami (tepatnya teman-teman saya) lagi-lagi harus melewati kemacetan ibukota. Ditambah saat itu long weekend. Jadi macetnya juga luar biasa dan semakin menjadi-jadi.

Jumat, 17 Agustus 2018, Pukul 2AM
Singkat cerita kami masuk Garut sekitar pukul 2am (baca: 2 PAGI) dan di sepanjang jalan banyak pedagang tahu Sumedang yang “ngetem”.
Karena perut kami bergejolak, akhirnya kami tergoda dan membeli tahu tersebut. Sumpahhh enak buangett!!! Tahu terenak yang pernah saya makan. Entah karena lapar atau emank karena enak. :p (maaf, intermezzo dulu)

Perjalanan dilanjutkan kembali dengan medan berkelok sempit dan menanjak dan kami mulai bisa merasakan udara dingin yang masuk ke dalam mobil.

Jalanpun semakin gelap karena enggak ada lampu sama sekali kecuali lampu mobil dan cahaya bulan yang menemani perjalanan kami.
Beberapa kali teman yang membawa mobil iseng mematikan lampu depan yang tentu saja membuat kami berteriak histeris sejadi-jadinya di dalam mobil.
Saking gelapnya kami enggak bisa melihat apa-apa di depan kami.

Salah satu alasan mengapa kami cukup was-was adalah kami enggak tau medan perjalanannya seperti apa. Apakah ada jurang atau tidak, apakah menembus hutan atau tidak, dan lain sebagainya.

Suasana semakin mencekam ketika sepertinya kami memasuki sebuah hutan.
Entah itu hutan atau bukan, yang pasti kami melewati pepohonan yang cukup rimbun di kiri-kanan kami selama perjalanan, ditambah jarak pandang yang semakin pendek karena berkabut dan membuat kaca mobil berembun.
Silih berganti kami harus me-lap kaca mobil biar bisa melihat jalan di depan.

Sempat terpikir apakah jalan menuju Gunung Papandayan benar atau tidak. Karena sepanjang perjalanan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti rumah warga atau orang yang lewat maupun papan petunjuk. Meskipun ragu, kami memutuskan untuk terus lurus karena sudah tanggung.

IMG_6774 2.jpeg

Kaki Gunung Papandayan Saat Pagi Hari

Jumat, 17 Agustus 2019, 03.30AM
Tiba di kaki gunung dan langsung memarkirkan mobil.

Satu hal yang mewakili keadaan kami saat itu…
Brrrrr… Dingin buangetttt…
Tubuh menggigil sejadi-jadinya, bahkan dari mulut mulai mengeluarkan asap macem di negara 4musim.
Padahal masih di kaki gunung. Enggak kebayang sedingin apa kalo menginap di puncak Papandayan.

Satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu ketika saya menengadah ke langit.
WOW… Jutaan bintang terhampar luas di langit.

Niat hati ingin hunting milkyway, tapi karena enggak kuat dengan udara malam di Papandayan akhirnya saya mengurungkan niat.
Yang pasti saat itu saya lebih memilih masuk ke dalam mobil daripada di luar.

Berhubung kami enggak camping, jadinya kami tidur di dalam mobil. Lagian enggak mungkin juga mendaki ke puncak saat itu.

Kesimpulannya setelah menempuh perjalanan selama 12 jam, kami langsung tepar dan terlelap. Apalagi  kami harus bangun 2-3 jam kemudian untuk mendaki. Ngebayanginnya aja capek banget ya!?

Jangan lupa baca juga cerita tentang Pendakian di Papandayan ya ^^
(Tapi menyusul)

One thought on “Perjuangan Menuju Papandayan

  1. Pingback: Gunung Papandayan | Go Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s