Wae Rebo – Desa di Atas awan

IMG_4365 2.jpg

Sejuk, tenang, udara bersih, pemandangan indah, kearifan lokal dan nilai budaya yang masih di pegang teguh. Sebuah harmoni yang indah antara alam dan budaya.

Itulah yang saya rasakan saat tiba di Wae Rebo, sebuah desa yang masih asri dan belum terjamah dengan jaman modernisasi. Wae Rebo berada di ketinggian +/-1000mdpl dan sering disebut dengan desa di atas awan karena sering turun kabut.

Wae Rebo sendiri berada di NTT tepatnya di manggarai – Pulau Flores. Untuk menuju Wae Rebo pastikan kalian terbang menuju Flores, saran saya silahkan pilih penerbangan ke Labuan Bajo, kemudian dilanjutkan perjalanan darat menuju Denge +/-7jam (sebuah desa terakhir sebelum memulai pendakian menuju Wae Rebo)

20180621_173441.jpg

IMG_4236.jpg

IMG_4383.jpg

Perjalanan dimulai ketika saya beserta 3 teman saya tiba di Denge. Kemudian kami langsung menghampiri rumah Pak Blasius, beliau merupakan keturunan dari Wae Rebo yang tinggal di Denge dan menjadi salah satu perantara bagi pengunjung yang ingin menuju Wae Rebo.

Meskipun saya sudah meng-informasikan Pak Blasius bahwa kami ingin bermalam di Wae Rebo, tetapi Saat tiba di rumah Pak Blasius kami wajib melakukan pendataan ulang sebelum menuju Wae Rebo.

Nah, berhubung saat itu sedang hujan jadinya kami makan terlebih dahulu di rumah Pak Blasius, hitung-hitung menyiapkan tenaga fisik untuk memulai perjalanan.
Setelah menunggu cukup lama dan masih hujan, akhirnya kami memutuskan untuk tetap jalan meskipun hujan-hujanan dan untungnya kami sudah prepare membawa jas hujan plastik dari Jakarta.

Mengingat medan yang harus kami tempuh akhirnya kami mulai berkemas dan hanya membawa 1 tas untuk di isi beberapa pakaian kami ber-4 dan alat-alat yang dibutuhkan secukupnya.

IMG_4379.jpg

Rumah Pak Blasius

Here we go…

Estimasi perjalanan dari denge (rumah Pak Blasius) menuju Wae Rebo +/-4jam dan melewati beberapa pos. Beruntungnya dari rumah Pak Blasius menuju pos 1 bisa di lalui dengan kendaraan bermotor jadi nya cukup menghemat tenaga dan waktu :p.

Kemudian kami mulai berjalan dari pos 1 dengan menanjak, masuk ke dalam hutan yang lebat, sungai, dan bahkan kami harus melewati bibir jurang dan tanah yang sudah longsor ditambah saat itu sedang hujan dan membuat kami was-was kalo ada longsor susulan. Puji Tuhan perjalanan kami dilancarkan meskipun kami harus hujan-hujanan.

IMG_4254.jpg

IMG_4261.jpg

POS 1. Sekalian Beli Tongkat Sebelum Tracking

IMG_4265.jpg

Jurang dan Bekas Longsor

Setelah tiba di pos 2 kami bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju pos 3 yaitu Wae Rebo. Dari pos 2 ke Wae Rebo jalanan sudah mulai lurus dan menurun. Meskipun demikian kami tetap harus hati-hati karena sepanjang perjalanan sangat banyak lintah apalagi saat hujan.

Jadi jangan heran kalo seandainya ada lintah yang menempel di kaki atau tangan ya. :p

IMG_4268.jpg

POS 2

IMG_4367.jpg

IMG_4270.jpg

10 menit sebelum tiba di Wae Rebo, kami berhenti di sebuah pondok dan ternyata setiap orang yang ingin berkunjung ke Wae Rebo harus berhenti di pondok tersebut untuk membunyikan kentongan yang ada di pondok itu. Tujuannya adalah untuk memberitahu warga Wae Rebo bahwa akan ada tamu yang datang.

IMG_4275.jpg

Tempat Membunyikan Kentongan/Pentungan

Wae Rebo berada di lembah pegunungan Manggarai, jadi saat berada disini kita akan melihat Wae Rebo dikelilingi perbukitan hutan tropis yang sangat indah. saking indahnya saya langsung sigap untuk foto, tapi tiba-tiba pemandu kami yang di sapa “KAN” memberitahu kami, “disini tidak boleh foto atau melakukan apapun sebelum mengikuti upacara adat terlebih dahulu.”

Upacara adat tersebut dinamakan Pa’u Wae Lu’u dan dipimpin oleh kepala adat Wae Rebo.
Jadi semua pengunjung yang datang wajib mengikuti upacara tersebut untuk menjadi “warga resmi” Wae Rebo.

Begitu tiba pengunjung akan di arahkan ke rumah utama yang bernama Niang Gendang, kemudian duduk mengelilingi dan menghadap kepala adat, kemudian beliau akan mendoakan kita. Kata KAN isi doanya adalah memberitahu roh leluhur bahwa pengunjung telah menjadi warga Wae Rebo dan meminta perlindungan selama di Wae Rebo

Setelah selesai mengikuti upacara kami diarahkan ke tempat dimana kami akan bermalam. Ada 2 rumah yang dijadikan tempat untuk bermalam dan 1 rumah bisa diisi sekitar 30an orang. Di dalam rumah tersebut hanya ada ruangan plong kosong yang luas dilengkapi sengam kasur twin (tanpa kerangka) yang diletakkan di sekeliling ruangan lengkap dengan bantal dan selimut. Sedangkan bagian tengah ruangan digunakan untuk meletakkan makanan dan minuman. Basicly saya suka dengan konsep ini karena selain makan dan tidur bersama momen ini bisa mengakrabkan diri antar pengujung.

Ohya kalo kamar mandi berada di luar…

Screen Shot 2018-11-15 at 21.32.56.jpg

Kepala Adat

IMG_4289.jpg

Bagian Tengah Ruangan Tempat Makan Bersama

20180621_084714.jpg

20180621_084127.jpg

Tangga Khas Wae Rebo

KAN adalah warga Wae Rebo, jadi kami sangat tersanjung diberikan kesempatan untuk berkunjung ke rumahnya dan melihat kehidupan warga lokal. Berbeda dengan tempat yang kami tinggal, kalo di rumah inti tersebut terdapat beberapa sekat karena 1 rumah di isi 6-8 keluarga, sedangkan bagian tengah untuk memasak sekaligus ruang tamu.

Kami, khususnya saya begitu senang saat berkunjung ke rumah mereka karena kami di anggap seperti keluarga sendiri. Salah satu kepala keluarga disana berkata “kalian sudah jadi warga Wae Rebo jadi anggap saja seperti rumah sendiri.”
Meskipun saat itu sedang hujan dan cuaca dingin tapi ada kehangatan yang mereka bagikan untuk kami, yaitu cara mereka menyambut dan menerima kami.

Selang beberapa menit kami disajikan sebuah kopi panas khas Wae Rebo.
Kopi menjadi salah satu penyandang perekonomian mereka, bahkan sudah di ekspor ke beberapa negara.

Saat kamı berkunjung, beberapa wanita (ibu-ibu dan seorang nenek) sedang memasak untuk ternak. Mereka memasak menggunakan kayu bakar dan otomatis asap memenuhi ruangan dan jujur kami enggak terbiasa dengan asap karena membuat mata kami perih dan berair. Setelah kami tanya ternyata mereka sudah terbiasa dan memang sehari-hari seperti itu, bahkan katanya asap tersebut bisa menguatkan atap mereka yang terbuat dari daun lontar dan ijuk.

IMG_4283.jpg

Salah Satu Kepala Keluarga Yang Sedang Menceritakan Tentang Wae Rebo

IMG_4286.jpg

Kopi Khas Wae Rebo dan Tumpukan Karung Hasil Panen Kopi.                                                           BTW Pemuda Baju Biru Yang Ada Di Foto Itu Namanya KAN.

IMG_4280.jpg

Setelah itu kami mulai diceritakan tentang Wae Rebo.
Wae Rebo menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO tahun 2012.
Meskipun berada di NTT, tapi nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau-Sumatera.
Sejarah Wae Rebo dikisahkan dari seorang pengembara Minangkabau yang berlayar hingga Flores.

Singkat cerita pengembara tersebut singgah di sebuah tempat yang bernama Todo yang kemudian menjadi rumah pertama bagi pengembara tersebut dan karena itulah penduduk Todo dan penduduk Wae Rebo merupakan saudara.
Kemudian pengembara tersebut pindah ke beberapa tempat hingga akhirnya menetap di Wae Rebo dan kemudian membuat rumah dengan model yang sama seperti di Todo. Rumah tersebut dikenal dengan nama Mbaru Niang, sebuah bangunan berkerucut yang terdiri dari beberapa tingkat yang di gunakan untuk menyimpan hasil panen.

Terdapat 7 rumah kerucut yang disusun membentuk setengah lingkaran dan katanya tidak akan ditambah lagi karena mereka percaya lahan yang setengahnya lagi merupakan tempat tingal para leluhur mereka.

Wae Rebo mulai diperkenalkan ke dunia luar oleh seorang antropolog yang bernama Catherine, semenjak itulah Wae Rebo mulai dikenal.

20180621_091253.jpg

IMG_4301.jpg

IMG_4339.jpg

OPEN-TRIP-WAE-REBO.jpg

Berhubung saat saya datang cuaca berkabut selama 2 harı, jadinya saya mau tunjukkin pemandangan Wae Rebo saat cuaca cerah, so ini hasil googling.                                                                   

Okay balik lagi, setelah selesai bertamu kami balik ke kamar untuk beristirahat.
Btw listrik akan di padamkan saat malam jadi kalo mau ke toilet harus bawa senter ya. Dan ada satu hal lagi yang membuat Wae Rebo terkenal, yaitu langit malam. Jutaan bintang memperlihatkan keindahannya dan itu lah yang kami nanti-nantikan, tapi karena dari pagi bahkan sampai malam masih hujan dan awan gelap dan juga berkabut jadi pupus Sudan harapan kami.

Keesokan harinya kami mulai berkemas setelah sarapan, kemudian kami memberikan sedikit buku dan alat tulis untuk anak-anak lokal.
Di Wae Rebo terdapat sebuah rumah, yaitu ruang baca atau semacam perpustakaan dan kami menitipkan nya kesana.

Saya belajar banyak di Wae Rebo, yatu arti sebuah keluarga, kebersamaan, dan keramahan. Bahkan saking ramahnya, mereka rela memberikan tempat tinggal mereka bila ternyata pengunjung yang datang membludak, yap meskipun akhirnya mereka harus mengungsi dari rumah mereka.

IMG_4313.jpg

20180621_071113.jpg

20180621_074846.jpg

Note untuk yang mau melakukan perjalanan ke tempat ini :

– Siapkan fisik, karena tracking nya cukup jauh

– Gunakan alas yang nyaman untuk tracking

– Anyway ke Wae Rebo sebenarnya enggak harus menginap, tapi menurut saya sangat disayangkan kalo enggak menginap karena udah capek-capek datang.

– Bawa pakaian secukupnya karena hanya menginap semalam saja, sisanya taro di parkiran

– Bawa senter, jas hujan, powerbank, obat pribadi, air minum (selama tracking), cemilan, alat mandi, dan beberapa barang lain yang menurut kalian perlu di bawa.

– Jangan ragu untuk berinteraksi dengan warga lokal maupun pengunjung.

– Kalo bisa berbagi sedikit dengan memberi alat tulis, atau apapun.

 

Budget Per Juni 2018 :

– Menginap semalam di Wae Rebo : Rp. 325.000/Orang (makan malam dan pagi)
Pulang hari alias tidak menginap : Rp. 200.000/Orang
Bp. Blasius : 0813.3935.0775 (SMS aja ya, karena sushi sinyal)

– Guide : Rp. 200.000/Group (start dari penanjakkan hingga pulang)

– Ojek motor Denge-Pos1 : Rp. 50.000/Motor

 

TAKE NOTHING BUT PICTURES
LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINTS
KILL NOTHING BUT TIME

ENJOY THE TRIP !!! ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s